-->

DASAR-DASAR ILMU

Posted by Ponda Samarkandi Kamis, 31 Januari 2013 0 komentar


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada dasarnya manusia diciptakan di dunia ini adalah untuk berpikir, berpikir di sini dalam artian berpikir secara mendalam untuk mencari kebenaran yang bersifat hakiki. Di dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan bahwa di dalam penciptaan bumi ini adalah untuk orang yang berpikir, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 190:
žcÎ) Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur É#»n=ÏF÷z$#ur È@øŠ©9$# Í$pk¨]9$#ur ;M»tƒUy Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÉÈ  
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.
Kandungan ayat di atas memerintahkan kepada semua manusia secara keseluruhan untuk berpikir. Jadi manusia diciptakan di dunia ini bukan hanya untuk hidup, tetapi juga untuk memikirkan penciptaan alam semesta ini. Ayat ini memerintahkan manusia berpikir agar menambah wawasan dan pengetahuan.

Dalam sejarah ilmu pengetahuan mengatakan bahwa manusia yang dianggap pertama menggunakan akalnya secara serius adalah Thales, ketika ia membuat sebuah pertanyaan “Apakah sebenarnya bahan alam semesta ini”, kemudian ia menjawab sendiri pertanyaannya dengan mengatakan bahwa bahan alam semesta ini adalah air. Oleh karenanya ia dikatakan sebagai Bapak Filsafat. Dari pertanyaan yang dimunculkan oleh Thales tersebut, maka muncul pemikiran-pemikiran lain yang lebih luas dan rumit pemecahan masalahnya, sehingga pengetahuan yang mereka miliki juga berkembang.
Ilmu pengetahuan itu ada karena buah pikir manusia. Berpikir  adalah sebagai pembeda yang memisahkan antara manusia dengan hewan. Manusia pada dasarnya sama dengan hewan, namun yang membedakan manusia dengan hewan adalah dari pengetahuan yang dimilikinya, oleh karenanya dalam filsafat manusia dikatakan sebagai  حيوان الناطق(hewan yang berpikir).
Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Dalam upaya mencari dan memperluas pemahamannya tentang pengetahuan, timbul beberapa pertanyaan seperti, apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia? Bagaimana manusia berpengetahuan? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan? Kemudian apakah yang diketahui itu benar? Dan apa yang menjadi tolak ukur kebenaran? Bagaimana kebenaran itu diaplikasikan?
Sederetan pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu, maka akan ada aturan yang harus diperhatiakan dalam mengkajinya melalui dimensi-dimensi kajian ilmu, yaitu dimensi ontologi, dimensi epistemologi, dan dimensi aksiologi. Dengan demikian dapat memberikan pemahaman tentang suatu kerangka pendekatan pencarian kebenaran, proses yang ditempuh dalam pencarian kebenaran tersebut dan sejauhmana kebenaran itu dapat dikatakan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis ingin menguraikan dan memberikan pemahaman tentang ke tiga dimensi kajian filsafat tersebut dalam sebuah makalah dengan judul: “DIMENSI KAJIAN FILSAFAT ILMU: ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, DAN AKSIOLOGI”.
Harapan penulis, makalah yang sederhana ini dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang menjadi dasar pengembangan ilmu pengetahuan. Dan mudahan makalah ini dapat memberikan kontribusi dan khazanah ilmu pengetahuan terhadap mahasiswa yang ingin memahami tentang dimensi kajian filsafat teresbut.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka makalah ini disusun dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan dimensi Ontologi?
2.      Apa yang dimaksud dengan dimensi Epistemologi?
3.      Apa yang dimaksud dengan dimensi Aksiologi?
C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan ini ialah untuk mengetahui dan memahami:
1.      Dimensi Ontologi.
2.      Dimensi Epistemologi.
3.      Dimensi Aksiologi.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Dimensi Ontologi
Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukan munculnya perenungan di bidang ontologi. Dalam persolan ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini? Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan, yaitu kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan).[1]
Pembahasan tentang hakikat sangatlah luas sekali, yaitu segala yang ada dan mungkin ada, yang boleh juga mencakup pengatahuan dan nilai (yang dicari ialah hakikat pengetahuan dan hakikat nilai). Hakikat ialah kenyataan yang sebenarnya bukan keadaan yang bersifat sementara atau keadaan yang menipu.[2]
Pembahasan tentang ontologi sebagai dasar suatu ilmu ialah berusaha untuk menjawab “apa”, yang menurut Aristoteles merupakan The First Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda. Secara etimologi, kata ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu On = Ada, dan Logos = Ilmu pengetahuan, jadi ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang segala yang ada.[3] Sedangkan pengertian ontologi secara terminologi sebagaiman yang dikemukakan oleh A. Dardiri dalam bukunya Humaniora, filsafat, dan logika mengatakan, ontologi adalah menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda di mana entitas dari kategori-kategori yang logis yang berlainan (objek-objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakana ada; dalam kerangka tradisional ontologi dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada, sedangkan dalam hal pemakaiannya akhir-akhir ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada.[4]
Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M, untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisis. Dalam perkembangannya Christian Wolff (1679-1754 M) membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metrafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi.
Dengan demikian, metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedang metafisika khusus masih dibagi lagi menjadi kosmologi, psikologi, dan teologi.[5]
Di dalam pemahaman ontologi dapat ditemukan beberapa pandangan pokok pemikiran sebagai berikut:[6]
1.      Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber asal, baik yang asal berupa materi ataupun berupa rohani. Paham ini kemudian terbagi ke dalam dua aliran:
a.       Materialisme
Aliran ini menganggap hakikat benda adalah materi, benda itu sendiri. Rohani, jiwa, spirit dan sejenisnya itu muncul karena adanya benda. Bagi paham ini, rohani, roh, Tuhan, spirit itu bukan hakikat, akan tetapi mereka muncul dari adanya benda. Jadi bendalah yang menyebabkan mereka ada.[7]  
Ada beberapa alasan mengapa aliran ini berkembang sehingga memperkuat dugaan bahwa yang merupakan hakikat adalah:[8]
1)       Pikiran yang masih sederhana, apa yang kelihatan yang dapat diraba, biasanya dijadikan kebenaran terakhir.
2)       Pikiran sederhana tidak mampu memikirkan sesuatu di luar ruang yang abstrak.
3)       Penemuan-penemuan menunjukan betapa bergantungnya jiwa pada badan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hakikat benda adalah benda itu sendiri, bukan rohani. Rohani, jiwa, Tuhan ada itu karena adanya benda. Dalam sejarahnya manusia memang bergantung pada benda seperti pada padi. Dewi Sri dan Tuhan muncul dari situ. Kesemuanya itu memperkuat dugaan bahwa yang merupakan haklekat adalah benda.
b.      Idealisme
Aliran ini berpendapat sebaliknya, hakikat benda adalah rohani, spirit atau sejenisnya. Aliran ini juga sering disebut dengan spiritualisme. Alasan mereka ialah sebagai berikut:[9]
1)      Nilai roh lebih tinggi dari pada badan.
2)      Manusia lebih dapat memahami dirinya dari pada dunia luarnya.
3)      Materi ialah kumpulan energi yang menempati ruang. Benda tidak ada, yang ada energi itu saja.
2.      Dualisme
Dualisme adalah aliran yang mencoba memadukan antara dua paham yang saling bertentangan, yaitu materialisme dan idealisme. Menurut aliran dualisme materi maupun ruh sama-sama merupakan hakikat. Materi muncul bukan karena adanya ruh, begitu pun ruh muncul bukan karena materi.[10]
Aliran dualisme berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Sama-sama hakikat. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri, sama-sama azali dan abadi. Hubungan keduanya menciptakan kehidupan dalam alam ini. Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakikat ini dalam diri manusia. Tokoh paham ini adalah Descrates (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan).[11]
3.      Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dalam Dictonary of Philosophy and Religion dikataka sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah anaxagoras dan Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara.[12]
Tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M). Kelahiran New York dan terkenal sebagai seorang psikolog dan filosof Amerika. Dalam bukunya The Meaning of Truth James mengemukakan, tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal.[13]
4.      Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sdebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif positif. Tokoh aliran ini diantaranya adalah Fredrich Nietzsche (1844-1900 M). Dilahirkan di Rocken di Pursia, dari keluarga pendeta. Dalam pandangannya bahwa “Allah sudah mati”, Allah Kristiani dengan segala perintah dan larangannya sudah tidak merupakan rintangan lagi. Dunia terbuka untuk kebebasan dan kreativitas manusia. Dan pada kenyataannya moral di Eropa sebagian besar masih bersandar pada nilai-nilai kristiani. Tetapi tidak dapat dihindarkan bahwa nilai-nilai itu akan lenyap. Dengan demikian ia sendiri harus mengatasi bahaya itu dengan menciptakan nilai-nilai baru, dengan transvaluasi semua nilai.[14]
5.      Agnostisisme
Agnostisisme adalah paham yang mengatakan bahwa manusia tidak mungkin mengetahui hakikat benda, baik hakikat materi maupun hakikat rohani. Manusia tidak mungkin mengetahui hakikat batu, air, api dan sebagainya. Sebab menurut aliran ini kemampuan manuisa sangat terbatas dan tidak mungkin tahu apa hakikat tentang sesuatu yang ada, baik oleh inderanya maupun oleh pikirannya.[15]
Timbul aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara konkrit akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal. Aliran ini dengan tegas selalu menyangkal adanya suatu kenyataan mutlak yang bersifat trancedent. Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti, Sren Kierkegaar, Heidegger, Sartre, dan Jaspers. Soren Kierkegaard (1813-1855) yang terkenal dengan julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme menyatakan, manusia tidak pernah hidup sebagai suatu aku umum, tetapi sebagai aku individual yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu yang lain.[16]
Jadi agnostisisme adalah paham pengingkaran atau penyangkalan terhadap kemampuan manusia mengetahui hakikat benda materi maupun rohani. Aliran ini mirip dengan skeptisisme yang berpendapat bahwa manusia diragukan kemampuannya mengetahui hakikat bahkan menyerah sama sekali.[17]
B.     Dimensi Epistemologi
Epistemologi juga disebut dengan teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara etomologi, istilah etomologi berasal dari kata Yunani episteme = pengetahuan dan logos = teori.[18] Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan syahnya (validitas) pengetahuan.
Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera, dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan, di antaranya adalah:[19]
1.      Metode Induktif
Induksi yaitu suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyatan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum. Yang bertolak dari pernyataan-pernyataan tunggal sampai pada pernyataan-pernyataan universal.
Dalam induksi, setelah diperoleh pengetahuan, maka akan dipergunakan hal-hal lain, seperti ilmu mengajarkan kita bahwa kalau logam dipanasi, ia mengembang, bertolak dari teori ini kita akan tahu bahwa logam lain yang kalau dipanasi juga akan mengembang. Dari contoh di atas bisa diketahui bahwa induksi tersebut memberikan suatu pengetahuan yang disebut sintetik.
2.      Metode Deduktif
Deduksi ialah suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut. Hal-hal yang harus ada dalam metode deduktif ialah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri. Ada penyelidikan bentuk logis teori itu dengan tujuan apakah teori tersebut mempunyai sifat empiris atau ilmiah, ada perbandingan dengan teori-teori lain dan ada pengujian teori dengan jalan menerapkan secara empiris kesimpulan-kesimpulan yang bisa ditarik dari teori tersebut.
3.      Metode Positivisme
Metode ini dikeluarkan oleh August Comte (1798-1857) yang dilahirkan di Montpellier pada tahun 1798 dari keluarga pegawai negeri yang beragama Katolik. Positivisme berasalah dari kata “positif” yang memiliki arti sama dengan faktual, yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta.[20]
Metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual, yang positif. Ia mengenyampingkan segala uraian/persoalan di luar yang ada sebagai fakta. Oleh karena itu, ia menolak metafisika. Apa yang diketahui secara positif, adalah segala yang tampak dan segala gejala. Dengan demikian metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada bidang gejala-gejala saja.
4.      Metode Kontemplatif
Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda harusnya dikembangkan sutu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini bisa diperoleh dengan cara berkontemplasi seperti yang dilakukan oleh Al-Ghazali.
5.      Metode Dialektis
Dalam filsafat, dialektika mula-mula berarti metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Metode ini diajarkan oleh Socrates. Namun Plato mengartikannya diskusi logika. Kini dialektika berarti tahap logika, yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan.
C.    Dimensi Aksiologi
Pengertian aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah “Teori tentang nilai”. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika.[21]
Makna “etika” dipakai dalam dua bentuk arti, pertama, etika merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan-perbuatan manusia. Arti kedua, merupakan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan, atau manusia-manusia lain. Objek formal etika meliputi norma-norma kesusilaan manusia, dan mempelajari tingkah laku manusia baik buruk. Sedangkan estetika berkaitan denganj nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya.[22]
Nilai itu objektif ataukah subjektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangan yang muncul dari filsafat. Nilai akan menjadi subjektif, apabila subjek sangat berperan dalam segala hal, kesadaran manusia menjadi tolak ukur segalanya; atau eksistensinya, maknanya dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis atau fisis. Dengan demikian, nilai subjektif akan selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimilki akal budi manusia, seperti perasaan, intelektualitas, dan hasil nilai subjektif selalu akan mengarah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.[23]
Nilai itu objektif, jika ia tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Nilai objektif muncul karena adanya pandangan dalam filsafat tentang objektivisme. Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya, sesuatu yang memiliki kadar secara realitas benar-benar ada.[24]
Nilai dalam ilmu pengetahuan. Seorang ilmuwan harus bebas dalam menentukan topik penelitiannya, bebas melakukan eksperimen-eksperimen. Kebebasan inilah yang nantinya akan dapat mengukur kualitas kemampuannya. Ketika seorang ilmuwan bekerja, dia hanya tertuju pada kerja proses ilmiah dan tujuan agar penelitiannya berhasil dengan baik. Nilai objektif hanya menjadi tujuan utamanya, dia tidak mau terikat dengan nilai-nilai subjektif, seperti; agama, adat istiadat.[25]
Tetapi perlu disadari setiap penemuan ilmu pengetahuan bisa berdampak positif dan negatif. Dalam hal ini ilmuwan terbagi dua golongan pendapat. Golongan pertama berpendapat mengenai kenetralan ilmu. Ilmuwan hanyalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk menggunakannya. Golongan kedua berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya haruslah berlandaskan nilai-nilai moral, sebagai ukuran kepatutannya.[26]

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Filsafat ilmu merupakan kajian yang dilakukan secara mendalam mengenai dasar-dasar ilmu. Pendekatan yang digunakan dalam menguak landasan-landasan atau dasar-dasar ilmu adalah melalui tiga hal sebagai berikut:
1.      Dimensi ontologi, yaitu ilmu yang mengkaji tentang hakikat. Teori hakikat pertama kali dikemukakan oleh tokoh filsafat Thales yang mengatakan bahwa hakikat segala sesuatu itu adalah air. Kemudian dalam perkembangannya, muncul paham-paham tentang ontologi meliputi monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnotisisme.
2.      Dimensi epistemologi, yaitu cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan syahnya (validitas) pengetahuan. Dalam menemukan sumber pengetahuan itu terdapat beberapa metode yaitu induktif, deduktif, positivisme, kontemplatif, dan dialektis.
3.      Dimensi aksiologi, yaitu teori tentang nilai (etika dan estetika). Pada adasarnya ilmu harus digunakan untuk kemaslahatan umat manusia. Ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup manusia dan kesejahteraannya dengan menitik beratkan pada kodrat dan martabat manusia itu sendiri, maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh disusun dan dipergunakan secara komunal dan universal.
Ke tiga landasan di atas merupakan dasar pijakan yang sangat penting untuk dipahami dalam mendalami dasar-dasar segala ilmu pengetahuan. Karena ke tiganya saling berkaitan erat satu sama lain sebagai titik tolak dalam pencapaian kajian hakekat kebenaran ilmu.
B.     Saran
Selayaknya pencetus karya adalah mengharapkan karya tersebut dapat menjadi manfaat bagi orang lain dan dirinya sendiri, seperti itu pula harapan yang ada ketika penyusunan makalah sederhana ini. Adapun bentuk kekurangan dan kesalahan tentu tidak akan terlepas karena merupakan sisi kemanusiaan yang mendasar dari kejiwaan manusia, sehingga dengan bersikap bijak adalah mengharapkan motivasi yang membangun dalam bentuk kritik dan saran.
Pada akhirnya ucapan terima kasih yang tidak terhingga dengan kesempatan dan perhatian yang diberikan, setidaknya permohonan maaf atas segala kesalahan dan kelalaian dalam makalah ini atau di dalam proses pembuatan makalah sederhana ini, baik dari paragraf, kalimat, kata, atau sikap selama proses pembuatan makalah ini. Selanjutnya tidak etis rasanya jika tidak sama-sama mendoakan, semoga segala bentuk pekerjaan yang disertai dengan ketulusan niat membuahkan keridhaan dari Allah yang Maha Rahman.

[1]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004, h. 131.

[2]Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, Cet. 9, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001, h. 28.

[3] Amsal Bakhtiar, Filsafat..., h. 134.
[4]http://suksespend.blogspot.com/2009/06/makalah-landasan-ontologi-epistemologi.html (Online 16 Oktober 2011).

[5]Amsal Bakhtiar, Filsafat..., h. 134-135.

[6] Ibid., h. 135.

[7] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati..., h. 29.
[8] Amsal Bakhtiar, Filsafat..., h. 137.

[9] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati..., h. 30.

[10] Amsal Bakhtiar, Filsafat..., h. 142.
[11] Ibid.

[12]http:/suksespend.blogspot.com/2009/06/makalah-landasan-ontologi-epistemologi.html (Online 16 Oktober 2011).

[13] Ibid.
[14] Amsal Bakhtiar, Filsafat..., h. 142.

[15] Ibid., h. 146.

[16] Ibid., h. 147.
[17] Ibid., h. 148.

[18] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, Cet. VII, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008, h. 16.

[19] Amsal Bakhtiar, Filsafat..., h. 152.
[20] Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, Jakarta: Prenada Media, 2003,       h. 133.
[21] Amsal Bakhtiar, Filsafat..., h. 165.

[22] Ibid., h. 166.

[23] Ibid.
[24] Ibid., h. 167.

[25] Ibid.

[26] Ibid., h. 169.









TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: DASAR-DASAR ILMU
Ditulis oleh Ponda Samarkandi
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://ponda-samarkand.blogspot.com/2013/01/dasar-dasar-ilmu.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.
0 Komentar di Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda

0 komentar:

Posting Komentar

Komentar yang tidak sesuai dengan syarat di bawah ini akan dihapus, Demi kenyamanan kita bersama :

1. Menggunakan bahasa tidak beretika (Sara, Pornografi, Menyinggung)
2. Komentar menautkan link secara langsung
3. Komentar tidak berkaitan dengan artikel
4. Komentar Scam (Promosi Link)

Original design by Bamz | Copyright of Coretan Mahasiswa Kampung.

Mengenai Saya

Foto Saya
Saya seorang mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Jurusan Dakwah STAIN Palangka Raya. Saya bukan seorang penulis, tapi saya berusaha menjadi seorang penulis. Kata-kata motivasi saya:  "Kalau anda bukan anak raja, atau anak orang kaya, maka jadi lah penulis".

Pengikut

Recent Comment