-->

STUDI Al-QURAN DAN HADIS ORIENTALIS

Posted by Unknown Minggu, 07 April 2013 3 komentar


STUDI Al-QURAN DAN  HADIS  ORIENTALIS
(Studi atas Pandangan Ignaz Goldziher tentang Al-Quran dan Hadis)
Oleh Akhmad Supriadi, S.Hi[1]
A.   Pendahuluan
Studi para pengkaji Islam dari dunia barat tentang dunia timur (baca: Islam) yang populer dikenal dengan orientalisme merupakan aktifitas yang telah berlangsung lama. Disinyalir aktifitas orientalisme telah dimulai sejak abad  ke-11 Masehi dimana pada saat itu banyak orang-orang Eropa yang sekolah dan belajar di perguruan-perguruan Arab dengan orientasi penguasaan dan penerjemahan buku-buku teks Arab.[2]
Kegiatan orientalis atau studi ketimuran itu sendiri mengalami perjalanan dan dinamika yang berliku. Demikian pula halnya dengan motivasi para orientalis dalam mengkaji Islam mengalami dinamika perubahan sesuai situasi yang berkembang. Sebelum abad ke 19 misalnya, motivasi para orientalis tidak jauh beranjak dari motivasi kolonialisme serta semangat permusuhan terhadap Islam. Pandangan yang dihadirkan didominasi oleh sikap polemis. Namun sejak abad ke-19 motivasi tersebut mulai mengalami pergeseran. Kegiatan orientalisme tidak lagi semata bertujuan mencari kelemahan ajaran Islam, namun telah mulai dimotivasi oleh tujuan ilmiah.[3]
diantara tokoh orientalis yang dianggap paling menonjol karya dan pemikirannya dalam studi Al-Quran dan hadis adalah Ignaz Goldziher, yang dalam perjalananya banyak memberikan inspirasi kepada orientalis lainnya seperti Joseph Schacht dan G.H.A Juynboll.[4]
Dalam kancah dunia orientalis, Ignaz Goldziher sendiri dianggap sebagai tokoh besar orientalis yang banyak memberikan pengaruh terhadap studi Keislaman baik Al-Quran maupun hadis. Dengan menggggunakan metode filologis serta kritik historis, Pemikiran dan pandangannya tentang Al-Quran dan Hadis terekam dalam beberapa karyanya khususnya Muslim Studies, Madzahib al-tafsir al-islamiy serta Inroduction to Islamic Theology and Law memicu lahirnya beragam reaksi baik beruap apresiasi maupun disapresiasi. Dalam karya-karyanya tersebut, Ignaz secara tegas meragukan otentisitas Al-Quran dan hadis yang notabene merupakan dua sumber utama ajaran Islam.

Baca Selengkapnya ....

Menelisik Pluralisme Agama M. Quraish Shihab

Posted by Unknown 2 komentar


MENELISIK PLURALISME AGAMA M. QURAISH SHIHAB
DALAM TAFSIR Al-MISBÂH
Oleh Akhmad Supriadi
Abstract
The discourse about religion pluralism is one of the most important issue in interpretation al-Qur’an either in clasical interpretation discourse, midle or modern and  contemporer. This problem has special urgency and signification because the problem of religion pluralism  is one of the most sensitive issue in connection between religion followers in multiculture and multirelion era.
This writing tries to look the view of al-Misbâh exegesis, the works of  Indonesian contemporer Quranic interpreter, Muhammad Quraish Shihab, about religion pluralism issue that discuss three important themes they are the fidelity of religion, the safety of religion followers and the tolerance of religon followers. With using the fenomenology method, the writer tries to “understand” and explain about Quraish Shihab view interrrelated to religion pluralism problem.
Based on the result of writer’s temporary study, the figure of Quraish Shihab which his recording idea can be seen by his main works al-Misbah exegesis, has no monolitic view to the three isues above. Connected to rightness problem and  the purity of religion, Quraish Shihab has an exclusive view.  And the issue about the safety of religion followers (out of Islam), he is inclined between exclusive and inclusive. Connected to the tolerance problem, Quraish Shihab is very inclusive and tolerance figure to othe religion community in outside of moslem cummunity.

Baca Selengkapnya ....

ANTARA SYIAH DAN TASAWUF

Posted by Unknown Jumat, 01 Februari 2013 0 komentar


ANTARA SYIAH DAN TASAWUF:

[Membedah Kitab Jami al-Asrar wa Manba al-Anwar-nya Seyyed Haidar Amuli]

Oleh

Ahmad Nawawi


I.       PENDAHULUAN

Dalam perspektif ilmu, di antara tujuan yang hadir di balik pembacaan tradisi pemikiran tokoh muslim klasik adalah untuk memelihara kesinambungan mata rantai khazanah pemikiran klasik tersebut agar generasi sesudahnya dapat membaca dan mentransformasikannya secara dinamis. Tujuan ini juga tidak dapat dilepaskan ketika berbicara tentang tradisi pemikiran dalam dunia tasawuf. Dikenalnya nama-nama seperti Rabi’ah ’Adawiyah, al-Hallaj, Ibn Sab’in, Ibn ‘Arabi, dan Mulla Shadra, --untuk hanya menyebut beberapa nama,-- adalah karena pemikiran-pemikiran mereka dapat ditransformasikan dengan baik oleh generasi-generasi sesudahnya.
Pada abad ke tujuh hijriah tradisi pemikiran ini terus ditransformasikan sosok Seyyed Haidar Amuli; seorang teoritikus tasawuf syi’i yang pemikiran-pemikirannya masih dikenal secara samar-samar di dalam pelataran dunia akademik. Pembacaan terhadap sosok ini menarik karena Amuli karena keberaniannya menyampaikan gagasan pengintegrasian antara tasawuf dan syi’ah. Amuli adalah sosok sufi yang dapat diklasifikasi ke dalam tasawuf garis Ibn ‘Arabi. Pada konteks ini, dalam aspek tertentu pemikiran-pemikiran Amuli memiliki kesamaan, --- untuk tidak menyebut terpengaruh,-- dengan pemikiran tasawuf Ibn Arabi. Namun ini tidak berarti Amuli taqlid secara baik kepada Syeikh al-Akbar, lebih dari itu Amuli secara kritis melakukan modifikasi-modifikasi tertentu sesuai dengan kontek lokalitas yang sekaligus merupakan kondisi sosio-historis yang mengitari perkembangan pemikirannya. Kondisi sosio-intelektualnya yang dilahirkan dari tradisi Syi’i juga cukup mewarnai pembentukan karakter intelektual Amuli.
Tulisan berikut ini akan membahas pemikiran tasawuf Amuli, teristimewa pemikiran tasawufnya yang tertuang dalam karyanya Jami’ al-Asrar wa Manba’ al-Anwar. Penulis menyadari keterbatasan literatur dan kemampuan penulis menjadikan tulisan berikut terbuka terhadap semua kritik konstruktif dan klarifikasi ilmiah dari para pembaca

Baca Selengkapnya ....

Dinamika Komunikasi Politik

Posted by Unknown 0 komentar

Dinamika Komunikasi Politik
di Era New Media[1]

Oleh: Gun Gun Heryanto[2]

Hal menarik dalam komunikasi politik kontemporer di dunia dan juga di Indonesia adalah fenomena penggunaan media baru (new media) yakni internet sebagai media atau saluran komunikasi yang semakin intensif digunakan. Para aktor politik baik politisi (wakil maupun ideolog), figur politik, birokrat, aktivis kelompok kepentingan (interest group), kelompok penekan (pressure group) maupun jurnalis media massa, saat ini semakin adaptif dengan penggunaan internet baik sifatnya statis maupun dinamis. Terlebih setelah terjadinya trend web 2.0 yang memperbaharui kelemahan-kelemahan web 1.0 dalam konteks distribusi pesan secara lebih interaktif. Dinamika Komunikasi politik pun banyak dipengaruhi oleh partisipasi para netizen yang tidak hanya berbagi pesan tetapi menjadikan internet sebagai ruang publik baru (new public sphere).

Baca Selengkapnya ....

TRILOGI KRITIK ARAB AL-JABIRI

Posted by Unknown 0 komentar


TRILOGI KRITIK NALAR ARAB AL-JABIRI
(Rekonstruksi Pemikiran Filsafat Arab-Islam Kontemporer)

Oleh : AHMAD NAWAWI

A.    PROLOG
Kesan yang penulis tangkap dari eksplorasi terhadap pemikiran filsafat Islam klasik, teristimewa filsafat Islam pasca Ibn Rusyd adalah bahwa para pemikir muslim pasca Ibnu Rusyd belum dapat dapat ‘menandingi’ keberhasilan yang  telah dicapai oleh para pendahulu mereka, sebut saja misalnya Ibn Rusyd, al-Ghozali, al-Farabi, dan Ibn Sina. Lebih jauh, capaian al-Asy’ari dengan teologi al-Asy’ariyahnya atau Ibn ‘Arabi dengan tawawuf falsafinya, sejauh ini lebih banyak dipakai sebagai referensi afirmatif dari pada sebagai referensi korektif-kritis. Para pemikir Muslim kontemporer belum dapat melepaskan dirinya dari mata rantai pemikiran masa lalu, alih-alih prestasi yang melampau capaian para pemikir muslim klasik.

Baca Selengkapnya ....

MUSTAFA KEMAL ATATURK

Posted by Unknown 0 komentar


MUSTAFA KEMAL ATATURK
DAN GERAKAN PEMBAHARUAN DI TURKI
Oleh :
Ahmad Nawawi


I.                               PENDAHULUAN

TTurki adalah salah satu bangsa muslim yang mempunyai urgensitas peran dalam perkembangan kebudayaan Islam. Dengan kerajaan Usmaninya (Ottoman Empire),[1]  pengaruh bangsa  ini[2]  menjangkau 
wilayah yang sangat luas, membentang sejak Asia Kecil, Asia Tengah, Timur  Tengah,  Mesir,  Afrika  Utara,  sampai  Eropa Timur.
Kejatuhan serta keruntuhan imperium Turki Usmani merupakan peristiwa yang kompleks bagi sebuah transformasi masyarakat Islam dari model kerajaan menuju ke negara modern. Munculnya kekuatan politk baru di daratan Eropa secara general dapat dianggap faktor penyebab  yang  mempercepat keruntuhan dinasti ini.[3]  Karena  itu,  pada permulaan abad ketujuh belas, bangsa Turki mulai memperdebatkan cara terbaik bagi program restorasi integritas politik serta efektivitas kekuatan militer yang dimiliki. Kekalahan demi kekalahan yang dialami menurut Harun Nasution mendorong Raja dan  para pemuka dinasti Usmani mengakui progresifitas Eropa. Bangsa Eropa  yang selama itu dipandang rendah serta terkebelakang, mulai mendapat perhatian dan sikap hormat.[4] Pada abad kedelapan belas, dilakukan upaya  untuk meniru institusi Barat. Sebuah sekolah teknik militer  misalnya, dengan dipimpin orang Perancis mulai didirikan. Institut pelatihan lainnya, terutama untuk angkatan darat dan laut, dijalankan oleh instruktur Eropa. Bahasa Perancis dan Italia dipelajari. Khazanah literatur Eropa banyak ditranslitrasikan ke dalam bahasa Turki.[5] Percetakan didirikan untuk menerbitkan terjemahan dari karya-karya Eropa.

Baca Selengkapnya ....

ISLAM TRADITION

Posted by Unknown 0 komentar


ISLAM: aNTARA gREAT tRADITION DAN LITTLE TRADITION
(Studi dengan Pendekatan Etnohermeneutik)

Oleh: Ahmad Nawawi, MA


I.          PROLOG
Sebagai agama yang bersifat universal yang berlaku di setiap zaman dan tempat, Islam dalam penyebarannya berhadapan dengan pluralitas sistem nilai yang multikultural. Pada konteks ini, Islam bukanlah seperangkat doktrin normatif religius, tetapi ia juga termanifestasikan ke dalam realitas sosial. Islam hidup serta menjelma pada kenyataan empiris yang historis di kehidupan umat Islam yang mengimaninya. Sebab doktrinal Islam yang memberikan kontruksi pandangan dunia (Islamic World view) mau tidak mau vis-a-vis dengan realitas sosial-budaya masyarakat yang telah eksis sebelum kehadiran Islam pada suatu wilayah geografis dan lingkungan sosio-kultural tertentu.
Fakta dan realitas dikhotomis distingtif Islam, yang mencerminkan dualitas Islam, menjadi “dua Islam” yang berbeda ini kemudian secara bermacam-macam dirumuskan oleh berbagai para ahli. Hamka misalnya, ketika menulis sejumlah karyanya tentang sejarah membedakan kategorisasi antara sejarah Islam dan sejarah umat Islam. Bagi Hamka, sejarah Islam mengacu kepada historisitas normatif doktrinal Islam. Sedangkan sejarah umat Islam dinilai sebagai dinamika pergumulan Islam dengan realitas sosio-kultural masyarakat pemeluknya.[1]

Baca Selengkapnya ....

AKHLAK DA’I MENURUT AL-QURAN

Posted by Unknown 0 komentar


AKHLAK DA’I MENURUT AL-QURAN
(Studi Atas Surah As-Shaf Ayat 2-3 Menurut Perspektif Mufassir)
Oleh:*Harles Anwar, Sahidul Muslipin

ABSTRAK

Landasan pemikiran dalam tulisan ini adalah akhlak. Akhlak menempati posisi penting dalam kehidupan baik individu, masyarakat, maupun bangsa terlebih bagi seorang juru dakwah yang selalu berinteraksi dengan khalayak dalam mengemban dan menyampaikan amanah yang suci dari Tuhan. Eksistensi akhlak dalam berdakwah yang mengharuskan adanya komitmen pada setiap perkataan dan perbuatan dipandang begitu berat dan membebani dalam mengaplikasikannya. Itulah yang banyak menimbulkan persepsi tentang esensi dakwah, bahwa signifikansi dakwah bukan hanya sebatas mensucikan fitrah manusia ke jalan Tuhannya melainkan juga mengandung pesan moral dan kesucian akhlaknya yang mesti dipertanggungjawabkan. Karenanya, profesi berdakwah tak jarang ditinggalkan, dengan berlandaskan al-Quran surah as-Shaf ayat 2-3.
Pada penelitian ini terlihat bahwa, pilar utama akhlak da’i dalam berdakwah yaitu berakhlakul karimah sebagai pondasi utama dalam menanamkan nilai-nilai kepercayaan. Kemudian dipertegas dalam aplikasinya dengan menumbuhkan sifat siddiq. Kandungan surah dalam penelitian  ini selain menekankan pada sifat kejujuran dan kecaman yang bersifat qhatti bagi mereka yang tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan dengan balasan berupa kemurkaan yang amat baginya. Selain itu, pada ayat 3 juga mempunyai dua tujuan pokok, yang sangat jelas disamping isyarat lain:
Pertama, adalah menetapkan dalam jiwa setiap muslim bahwa ajaran agamanya merupakan sistem hidup yang terakhir yang sesuai dengan perkembangan dalam sejarah kemanusiaan, mengatasi semua agama yang ada dipentas bumi ini dan penutup bagi seluruh agama.
Kedua, adalah mendorong bagi setiap muslim untuk memantapkan niat guna berjihad dalam menegakkan agama-Nya dengan ketegaran tanpa adanya kebimbangan antara ucapan dan tindakan.

Baca Selengkapnya ....

BIOGRAFI IMAM NAWAWI

Posted by Unknown 0 komentar


BIOGRAFI IMAM NAWAWI AD-DIMASYQIY
DAN KANDUNGAN KITAB RIYADHUS SHALIHIN

A.      Pendahuluan
Kitab Riyadus Shalihin adalah sebuah kitab yang sangat masyhur dalam dunia Islam. Kitab ini telah dijadikan pegangan selama ratusan tahun bagi para ulama, pelajar dan penuntut ilmu agama di belahan dunia. Di Indonesia sendiri kitab Riyadus Shalihin ini merupakan salah satu ‘kitab wajib’ bagi seluruh pesantren.[1]
Pengarang kitab Riyadus Shalihin adalah Al Imam Al ‘Alamah al Muhaddits, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an Nawawi ad Dimasqi as Syafi’i, beliau dikenal sebagai ulama paling ‘alim pada zamannya, zuhud dan wara’, serta kuat beramal sholeh. Dilahirkan di sebuah desa bernama Nawa dekat Damsyik, Suriah pada tahun 631 H. Beliau mulai menuntut ilmu di sebuah sekolah agama milik Habbatullah bin Muhammad Al Anshori yang terkenal dengan sebutan Ibnu Rawahah. Madrasah itu bernama Madrasah Ar Rawahiyyah. Imam Nawawi belajar di Madrasah ini mulai tahun 649 H, saat berusia delapan belas tahun, kemudian melanjutkan pelajarannya ke Sekolah Darul Hadits di Madrasah Usruniah. Beliau wafat di desanya sendiri yaitu desa Nawa, Damsyik, Suriah, pada tahun 676 H pada usia 45 tahun. Meskipun beliau belum sempat menikah seumur hidupnya, namun sebagai penghormatan, kaum muslimin tetap menggelarinya ‘Abu Zakaria’, yang menggambarkan seolah-olah beliau pernah memiliki seorang putra.[2]

Baca Selengkapnya ....

Dikotomi Ilmu Pengetahuan

Posted by Unknown Kamis, 31 Januari 2013 0 komentar


DIKOTOMI ILMU PENGETAHUAN
(Akar Tumbuhnya Dikotomi Ilmu Umum Dan Agama Dalam Islam)



A.    Pendahuluan
Islam adalah agama yang memiliki berbagaimacam pengetahuan, baik itu pengetahuan agama maupun pengetahuan umum. Dalam Islam pengetahuan tidak dibedakan, bahkan Islam menganggap kedua pengetahuan tersebut ibarat mata uang yang memiliki dua sisi yang berbeda namun tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.
Islam menganggap ilmu pengetahuan sebagai sebuah konsep yang holistis, dalam konsep ini tidak ada perbedaan antara pengetahuan dengan nilai-nilai. Hal ini dapat diketahui ketika al-quran berbicara tentang menawarkan kepada jin dan manusia untuk menembus angkasa atau langit, ketika al-Qur’an berkata iqra’ dan juga ketika al-Qur’an bercerita tentang penciptaan bumi dan langit serta pertukaran siang dan malam. Kesemuanya itu merupakan sebuah indikasi bahwa sumber dari segala ilmu berasal dari Islam.

Baca Selengkapnya ....

ELEMEN PENELITIAN KOMUNIKASI

Posted by Unknown 0 komentar


ELEMEN DASAR
PENELITIAN KOMUNIKASI


A.     Pendahuluan
Ilmu pengetahuan lahir dari kekaguman manusia akan alam semesta. Manusia dibekali hasrat ingin tahu, sehingga ia ingin mengetahui segala apa yang ada di alam semesta ini. Akibat dari rasa ingin tahu itu, maka timbul pertanyaan-pertanyaan seperti apa, mengapa, bagaimana, dan sebagainya. Hasrat ingin tahu manusia itu akan terpuaskan kalau ia memperoleh jawaban mengenai hal yang dipertanyakannya tersebut.  
Salah satu cara yang dilakukan manusia dalam upaya memperoleh jawaban dari pertanyaannya adalah melalui penelitian. Penelitian merupakan upaya untuk menambah dan memperluas pengetahuan, yang selain untuk menghasilkan pengetahuan yang baru (sebelumnya belum ada atau belum dikenal), juga termasuk pengumpulan keterangan baru yang bersifat memperkuat teori-teori yang sudah ada atau menyangkal teori-teori yang sudah ada.[1]

Baca Selengkapnya ....

Bacaan Makmum Dalam Shalat

Posted by Unknown 0 komentar


MASALAH BACAAN MAKMUM DALAM SHALAT
MENURUT IMAM MAZHAB YANG EMPAT
( SYAFI’I, MALIKI, HANBALI DAN HANAFI)

A.      Pendahuluan
Sumber utama ajaran Islam adalah al-Qur’an dan Hadis. Dalam memahami al-Qur’an maupun Hadis para ulama fiqih memiliki pemahaman yang berbeda-beda, sehingga menimbulkan perbedaan dalam menetapkan suatu hukum yang terjadi di kalangan masyarakat.
Salah satu contoh yang sering terjadi ikhtilaf dalam kehidupan masyarakat adalah masalah shalat. Sebagaimana diketahui bahwa shalat adalah pangkal dari segala ibadah. Akan tetapi, tidak sedikit ikhtilaf (perbedaan) di antara pendapat para ulama mengenai masalah bacaan makmum dalam shalat.
Berdasarkan pemaparan yang ringkas tersebut maka penulis disini akan membuat sebuah makalah dengan judul: “MASALAH BACAAN MAKMUM DALAM SHALAT MENURUT PANDANGAN IMAM MAZHAB YANG EMPAT (SYAFI’I, MALIKI, HANBALI, DAN HANAFI”.

Baca Selengkapnya ....
Original design by Bamz | Copyright of Coretan Mahasiswa Kampung.

Pengikut

Recent Comment